Berawal dari salah
satu tweet seseorang di media sosial
tentang “siapa yang ingin sekali kau peluk tapi malu”, membawa ingatan Si
Sulung pada Papa. Seseorang yang selalu menghawatirkannya berlebihan hingga
membuatnya jengkel, atau membuatnya malu karena sikap udik Papa pada teknologi
jaman sekarang. Tapi Papa selalu ada, mau mengantarkan Si Sulung kemana-mana,
memenuhi segala kebutuhan hingga Si Sulung tak pernah merasa kekurangan, hingga
tak pernah terpikirkan oleh Si Sulung bagaimana kerasnya hidup, hingga Si
Sulung selalu merasa baik-baik saja, hidup pastilah mudah padahal Papa semakin
menua.
Sekarang Si Sulung sudah cukup dewasa.
Dia mengerti benar, kedepannya dialah yang menjadi penopang keluarga. Jika saat
ini Papa yang selalu menjaganya, menjadi tumpuan semua orang, kelak dia yang
harus menjaga Papa dan orang rumah yang dicintainya. Seringkali dia meragukan
kemampuannya sendiri. Bisakah dia? Putri sulung yang selalu dikhawatirkan Papa,
tetap tegak bertahan demi menjaga orang-orang rumah. Merasakan kerasnya hidup
tanpa membuat yang lain merasakannya, membuat orang lain merasa semua berjalan
baik seperti yang selalu Papa lakukan hingga sekarang.
Keraguan Si Sulung bertolak dengan
keyakinan Papa padanya. Papa yakin, ketika tanggungjawab beralih pada Si
Sulung, beratnya pastilah sudah berkurang, karena meskipun Papa tidak tahu
bagaimana cara dunia bekerja. Papa paham siapa yang bisa bertahan dan bagaiamana.
Si Sulung bisa, pasti bisa. Papa telah merencanakan semuanya, jauh-jauh hari,
agar Si Sulung siap memikul tanggungjawabnya, kelak dia yang menjadi tulang
punggung keluarga. Si Sulung pasti bisa mandiri, bijak, tetap kuat bertahan
meski kedepannya ada banyak masalah. Karena itu di sekolahkannya tinggi-tinggi
Si Sulung, satu-satunya harapan Papa. Dia harus menjadi lebih dari Papa, jauh
melampaui Papa. Agar hidup lebih mudah untuk Si Sulung, untuk semua orang rumah
juga.
Si Sulung mengerti itu, keyakinan dan
harapan Papa padanya, bukan hanya Papa melainkan semua orang rumah yang sangat
dicintainya. Sebisa mungkin Si Sulung tekun belajar, sekolah yang pandai,
mendapat nilai yang terbaik, lebih baik lagi jika dia mendapat peringkat
teratas. Namun semakin betambah usia, Si Sulung sadar itu saja tidaklah cukup.
Mungkin ini tidak berlaku bagi semua orang, tapi Si Sulung merasa dia tidak
mengenal dirinya, tidak tahu apa sebenarnya yang dia mau karena terlalu fokus
pada akademis saja, sehingga lupa ada banyak hal lain yang perlu diasah seperti
soal dirinya sendiri dan kehidupan sosialnya.
Si Sulung merasa dirinya belum cukup
dewasa. Dia kagum pada teman-temannya yang pandai memecahkan masalah, pandai
menyampaikan pendapat, sedangkan dia masih terbata-bata. Pada saat-saat itu,
ketika sesekali ada pertemuan dengan teman-temannya dia lebih sering diam,
menjadi pendengar, mendengarkan bagaimana pandangan teman-temannya terhadap
berbagai persoalan. Kenapa bisa teman-teman sebegitu bijaknya, sebegitu
teraturnya merangkai kata-kata. Kenapa sangat sulit baginya untuk mengeluarkan
isi pemikirannya secara lisan? Dia tahu dia harus mulai berani, belajar untuk
berbicara, tapi entah kenapa, lidahnya seperti terkunci. Memulai pembicaraan
dengan orang saja sangat sulit baginya. Andai sejak dulu dia terlatih
berbicara. Andai dulu Papa memperbolehkannya sesekali keluar berbincang-bincang
dengan teman-temannya, bukan hanya karena soal pelajaran. Andai dia boleh ikut
himpunan atau kegiatan mahasiswa, pastinya dia akan lebih banyak mendapat
pengalaman. Si Sulung memang tipe anak yang terlalu patuh dan menghindari
perdebatan, apalagi dengan orangtuanya.
Kapan Papa berhenti menghawatirkannya?
Dia sudah cukup besar, ingin memulai perjalanannya. Seharusnya boleh sesekali
melangkah keluar dari zona nyamannya, sedikit bertualang mengumpulkan
pengalaman. Tapi Papa tidak akan pernah membiarkannya keluar tanpa persiapan.
Tidak akan pernah diperbolehkan, setidaknya Si Sulung harus berangkat dulu
dengan Papa, atau ditemani orang yang Papa percaya, agar Si Sulung tahu
medannya dulu, agar Si Sulung baik-baik saja ketika kembali pada Papa.
Papa sebenarnya tahu Si Sulung tidak
akan melampaui batas, hanya saja Papa takut putrinya kenapa-napa. Kekhawatiran
Papa yang malah membuat Si Sulung semakin khawatir. Khawatir jika keberanian,
pengalaman, dan cara pandangnya masih belum cukup untuk bertahan, belum cukup
untuk mengatasi permasalahan yang kelak dihadapinya.
Sekarang Si Sulung mulai mengenal
dirinya. Banyak yang telah dia dengar dan lihat meskipun dari pengalaman orang
lain. Dia sudah merencanakan banyak hal kedepannya. Dia akan mulai melangkah,
melakukan apa yang menurutnya benar. Namun tetap saja, dia butuh izin dari
Papa. Memang, Si Sulung tidak pernah menjadi Papa, tidak tahu bagaimana
perasaan khawatir seorang ayah pada putri sulungnya. Tapi dia akan mulai berani
berbicara, meyakinkan Papa, sebaik dan sehalus yang dia bisa.
Si Sulung sayang sekali dengan orang
rumah, dengan Papa juga. Dia seringkali memeluk Mamanya, tapi jarang sekali
memeluk Papa. Sepertinya hanya saat hari raya saja. Dia ingin memeluk Papa,
berkata padanya “Putrimu ini sudah dewasa. Sudah bisa menjaga dirinya, tak
perlu terlalu khawatir, tetap doakan saja”. Si Sulung ingin Papa sedikit
melonggarkan ikatannya agar dia bisa lebih mantap untuk melangkah, bisa belajar
dari pengalamannya sendiri, agar terbentuklah cara pandangnya, biar kelak tidak
membuat pilihan yang salah, biar kelak dia tidak menyesal.

Komentar
Posting Komentar